Rangkuman Bahasa Indonesia 2
Pembentukan Kata
Pembentukan kata lebih lanjut
Pembentukan kata lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan yang melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Proses pembentukan itu ada tiga macam yaitu pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Karena unsur serapan, pembicaraan hanya menyangkut pengimbuhan, karena tidak ada yang perlu dibacarakan dalam pengulangan dan pemajemukan.
Dalam kaitannya dengan penambahan awalan seperti meng-, peng-, dan peng-an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu diperlakukan sama atau berbeda dengan kata-kata yang lebih asil, dan mengingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali dengan gugus konsonan.
Jika kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara (/p, /t, /k) dan geseran apiko-alveolar (/s) mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut akan hilang atau luluh. Contoh : tangkap menjadi menangkap dan penangkap, dan kubur menjadi mengubur dan penguburan, contoh kalimat: - totong menangkap kadal
-hari ini adalah penguburan terakhir dari korban kecelakan
Kata – kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara (/p/) jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng-an maka kata – kata tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata dalam bahsa Indonesia yang lain. Contoh : puja menjadi memuja dan pempujaan, contoh kalimat:- gunung kidul merupakan tempat pemujaan untuk pencari harta
Kata – kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara (/t/) jika dibentuk dengan awalan meng- dan peng-an maka akan ada kata yang belum berterima. Contoh : kata tutup menjadi menutup dan penutupan, soal keberterimaan itu rupanya ditentukan oleh tingkat keasingan atau keindonesiaan kata serapan tersebut.
Kata asing yang kemudian menjadi kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, jika tidak maka akan menyebabkan orang sulit mengenal kata dasar dari suatu bentukan. Jadi untuk kata-kata yang belum dikenal, bukan hanya konsonan awalnya tidak mengalami peluluhan, melainkan juga diberi tanga hubung untuk mempertegas antara kata dasar dengan unsur-unsur pembentukannya. Contoh : ‘fotol’ menjadi men-foto dan pen-foto-an, contoh kalimat:- andi memfoto keindahan alam
s
System fonologi bahasa Indonesia menyesuaikan konsonan geseran labio-dental tak bersuara (/f/) menjadi /p/. Kata akan mengalami penghilangan atau luluh apabila sudah disesuaikan menjadi /p/, sedang apabila tetap /f/ maka akan mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/. Contohnya : pancing menjadi memancing dan pemancingan, fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnahan, contoh kalimat:
- makan hari ini adalah hasil dari memancing ayah kemarin
- siswi kelas satu sma itu telah terbukti telah memfitnah temannya
Beberapa kata dari konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ akan luluh apabila mendapat awalan meng atau konfiks peng-an. Contoh : kaji menjadi mengkaji dan pengkajian, dan konsep menjadi mengonsep dan pengonsepan, contoh kalimat:- pemerintah akan mengkaji ulang tenang subsidi yang akan di berikan ke rakyat
Kata-kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Contoh : simpan akan menjadi menyimpan dan penyimpanan, dan sample menjadi menyampel dan penyampelan, contoh kalimat:- ani menyimpan data di flashdisk
Kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda, contohnya pada kata “sinkrun” dan “sistematis”, jika mendapat awalan meng- dan peng-an menjadimensinkrunkan dan pensinkrunan, mensistematiskan dan pensistematisan.
Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ jika mendapat awalan meng- /p/ tidak luluh, tetapi jika mendapat konfiks peng-an /p/-nya luluh. Contoh : protesmenjadi memprotes (tidak luluh) dan pemrotesan (luluh), program menjadi memprogram(tidak luluh) dan pemrograman (luluh).
Kata serapan yang diawali dengan gugus /kr/ konsonannya tidak hilang bila mendapat awalan meng- contoh : kristal menjadi mengkristal, kritik menjadi mengkritik , tetapi apabila mendapat awalan peng- maka /k/ itu lebur, Contoh : kristal menjadipengristalan, dan kritik menjadi pengritik.
Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/, konsonan yang awalnya tidak pernah mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng, maupun konfiks peng-an. Contoh :
• /tr/ traktir menjadi mentraktir dan pentraktir.
• /st/ stabil menjadi menstabilkan, penstabil dan penstabilan.
• /sk/ skala menjadi menskalakan, penskala dan penskalaan.
• /sp/ sponsor menjadi mensponsori, pensponsor dan pensponsoran.
• /pl/ plester menjadi memplester, pemplester dan pemplesteran.
• /kl/ kliping menjadi mengkliping, pengkliping, dan pengklipingan.
Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara, sudah tentu konsonan pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng- atau peng-. Kata-kata serapan itu dapat mengalami proses pengulangan. Contoh : traktor-traktor, komputer-komputer. Kata –kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipurna atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal padda suku ulangannya juga tidak luluh. Contoh : mempraktis-praktisan, mengkritik-kritik.
Pembentukan kata lebih lanjut
Pembentukan kata lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan yang melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Proses pembentukan itu ada tiga macam yaitu pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Karena unsur serapan, pembicaraan hanya menyangkut pengimbuhan, karena tidak ada yang perlu dibacarakan dalam pengulangan dan pemajemukan.
Dalam kaitannya dengan penambahan awalan seperti meng-, peng-, dan peng-an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu diperlakukan sama atau berbeda dengan kata-kata yang lebih asil, dan mengingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali dengan gugus konsonan.
Jika kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara (/p, /t, /k) dan geseran apiko-alveolar (/s) mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut akan hilang atau luluh. Contoh : tangkap menjadi menangkap dan penangkap, dan kubur menjadi mengubur dan penguburan, contoh kalimat: - totong menangkap kadal
-hari ini adalah penguburan terakhir dari korban kecelakan
Kata – kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara (/p/) jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng-an maka kata – kata tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata dalam bahsa Indonesia yang lain. Contoh : puja menjadi memuja dan pempujaan, contoh kalimat:- gunung kidul merupakan tempat pemujaan untuk pencari harta
Kata – kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara (/t/) jika dibentuk dengan awalan meng- dan peng-an maka akan ada kata yang belum berterima. Contoh : kata tutup menjadi menutup dan penutupan, soal keberterimaan itu rupanya ditentukan oleh tingkat keasingan atau keindonesiaan kata serapan tersebut.
Kata asing yang kemudian menjadi kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, jika tidak maka akan menyebabkan orang sulit mengenal kata dasar dari suatu bentukan. Jadi untuk kata-kata yang belum dikenal, bukan hanya konsonan awalnya tidak mengalami peluluhan, melainkan juga diberi tanga hubung untuk mempertegas antara kata dasar dengan unsur-unsur pembentukannya. Contoh : ‘fotol’ menjadi men-foto dan pen-foto-an, contoh kalimat:- andi memfoto keindahan alam
s
System fonologi bahasa Indonesia menyesuaikan konsonan geseran labio-dental tak bersuara (/f/) menjadi /p/. Kata akan mengalami penghilangan atau luluh apabila sudah disesuaikan menjadi /p/, sedang apabila tetap /f/ maka akan mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/. Contohnya : pancing menjadi memancing dan pemancingan, fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnahan, contoh kalimat:
- makan hari ini adalah hasil dari memancing ayah kemarin
- siswi kelas satu sma itu telah terbukti telah memfitnah temannya
Beberapa kata dari konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ akan luluh apabila mendapat awalan meng atau konfiks peng-an. Contoh : kaji menjadi mengkaji dan pengkajian, dan konsep menjadi mengonsep dan pengonsepan, contoh kalimat:- pemerintah akan mengkaji ulang tenang subsidi yang akan di berikan ke rakyat
Kata-kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Contoh : simpan akan menjadi menyimpan dan penyimpanan, dan sample menjadi menyampel dan penyampelan, contoh kalimat:- ani menyimpan data di flashdisk
Kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda, contohnya pada kata “sinkrun” dan “sistematis”, jika mendapat awalan meng- dan peng-an menjadimensinkrunkan dan pensinkrunan, mensistematiskan dan pensistematisan.
Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ jika mendapat awalan meng- /p/ tidak luluh, tetapi jika mendapat konfiks peng-an /p/-nya luluh. Contoh : protesmenjadi memprotes (tidak luluh) dan pemrotesan (luluh), program menjadi memprogram(tidak luluh) dan pemrograman (luluh).
Kata serapan yang diawali dengan gugus /kr/ konsonannya tidak hilang bila mendapat awalan meng- contoh : kristal menjadi mengkristal, kritik menjadi mengkritik , tetapi apabila mendapat awalan peng- maka /k/ itu lebur, Contoh : kristal menjadipengristalan, dan kritik menjadi pengritik.
Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/, konsonan yang awalnya tidak pernah mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng, maupun konfiks peng-an. Contoh :
• /tr/ traktir menjadi mentraktir dan pentraktir.
• /st/ stabil menjadi menstabilkan, penstabil dan penstabilan.
• /sk/ skala menjadi menskalakan, penskala dan penskalaan.
• /sp/ sponsor menjadi mensponsori, pensponsor dan pensponsoran.
• /pl/ plester menjadi memplester, pemplester dan pemplesteran.
• /kl/ kliping menjadi mengkliping, pengkliping, dan pengklipingan.
Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara, sudah tentu konsonan pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng- atau peng-. Kata-kata serapan itu dapat mengalami proses pengulangan. Contoh : traktor-traktor, komputer-komputer. Kata –kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipurna atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal padda suku ulangannya juga tidak luluh. Contoh : mempraktis-praktisan, mengkritik-kritik.

Komentar
Posting Komentar